MAN JADDA WA JADDA

 Oleh : NOVI HANDRA, S.Pd.I

*** (Meninggalkan rumah)

Bajuku pun basah digenangi air mata dalam dekapan ibu.”Jaga dirimu baik-baik ya Nak, patuh pada paman dan jangan pernah lupakan sholat di mana saja kamu berada!” Untaian kata itu kembali membuat air mataku tak berhentinya jatuh, “Jangan pernah lupakan rumah dan kampung kita ya Dik!” Pesan dari dua orang saudaraku sambil menangis juga membuat hatiku berat untuk meninggalkan rumah, tapi aku harus sekolah agar bisa membahagiakan ibu dan saudaraku. Apalah daya, aku harus hidup bersama paman (adik ibu) di Jakarta karena ibu sudah semakin tua, sering sakit-sakitan, bahkan untuk kebutuhan hidup sehari-hari saja ibu harus bekerja di sawah orang. Semenjak ayah tiada, aku dan dua orang saudaraku senantiasa menolong ibu bekerja di sawah orang, Salman abangku dan Halimah kakak perempuanku harus putus sekolah karena ibu tidak sanggup untuk menyekolahkan mereka, karena aku anak yang bungsu, ibu tidak ingin aku seperti kedua saudaraku yang tidak tercapai cita-citanya karena harus menjaga dan merawat ibu. Sering kali paman berpesan “Biar si Umair aku sekolahkan di sini dan akan aku ajarkan juga dia berjualan.” kata paman, makanya karena tidak ada jalan lain dan ibu juga sangat paham dengan yang kurasa apalagi dengan segala impian dan cita-citaku yang begitu tinggi, dengan terpaksa ibu harus menitipkan aku kepada adik laki-lakinya itu di Jakarta, harapan ibu agar aku bisa sekolah di sana.

“Umair, jaga dirimu baik-baik ya Nak, jadi anak sholeh dan berguna bagi setiap orang?” Kalimat dari mulut ibu kembali membuat hati ini sangat merasa kehilangan, ya…kehilangan belaian sosok seorang ibu dan abang serta kakakku. Sambil menggendong tas ransel peningalan ayah yang berisi kain bajuku, kulepas dekapan ibu lambat. Dua orang saudaraku selalu mengingatkanku sambil mengurai air mata yang tak henti-hentinya di raut wajah mereka nan pilu, aku pun berat untuk menoleh ke belakang. karena yang terpikir olehku saat itu dengan melihat wajah mereka hanya akan tambah memberatkanku untuk pergi meninggalkan rumah ini, namun beberapa langkah setelah akan naik ke atas mobil sedikit pun aku tak mau melewatkan dengan tak berhentinya menoleh ke belakang untuk melihat wajah ibu dan saudara-saudaraku yang entah kapan lagi kita akan berjumpa kembali. Jakarta sebuah kota yang lumayan besar, segala macam kehidupan ada di sana. Aku harus selalu jaga nasehat ibu.

 

 

 

*** (Tiba di Jakarta)

Tok…tok…tok…! Beberapa selang waktu kemudian, aku pun akhirnya sampai juga di rumah paman, tiga menit sudah aku menunggu di depan pintu. “Ee…Umair, kamu sudah sampai, bagaimana keadaan ibu dan saudaramu di kampung, apa mereka baik-baik saja?”

“Alhamdulilah Paman.” Serayaku.

“Silahkan duduk dulu pasti kamu kehausan, biar diambilkan dulu minum oleh tantemu!”

“Rini, tolong ambilkan air untuk keponakanmu!”

“Iya, Bang!”. Sambil bergegas tante Rini pun langsung menuju dapur.

“Kamu bisa tinggal di sini selamanya Umair, paman akan mengajarimu berjualan agar kamu nanti bisa mandiri, InsyaAllah, paman akan menyekolahkanmu dan kamu bisa bantu-bantu paman di toko setelah pulang sekolah, yang penting kamu sabar aja dulu.”

“Terimakasih banyak Paman, aku sangat senang.”

 

*** (Di toko sepatu)

Detik dan waktu pun berganti, kurang lebih satu bulan sudah aku di rumah paman, sudah satu bulan juga aku menghabiskan hari-hariku di toko sepatu. Di toko paman terdiri dari beraneka macam jenis sepatu, mulai dari sepatu anak laki-laki dan perempuan sampai sepatu pria dan wanita dewasa. Aku pun diajarkan cara mengecek barang masuk, mendata barang rusak, mengikat barang lebih-lebih saat ada pembeli, bahkan sampai melayani costumer. Karyawan paman ada sekitar empat orang dan lima denganku, karena grosiran sepatu paman lumayan besar. Sudah sejauh ini yang ada dalam benakku hanyalah sekolah, aku ingin pintar agar aku bisa sukses dan membahagiakan ibu juga saudara-saudaraku, kelak aku ingin membangun sebuah rumah untuk tempat tinggal mereka di kampung, karena rumah kami sudah setiap sudut dimasuki air apabila hujan turun, bahkan saat malam datang pun hembusan angin sangat terasa, menggigil ke hulu jiwa. Namun aku harus bersabar, aku malu mendesak paman setiap hari.

 

*** (Di dapur)

Kruuk…kruuk…kruuk..! Perutku sangat lapar, oh…pantasan, ternyata sudah jam tiga sore, aku belum makan siang. Seperti kata paman, kalau kamu lapar makan saja apa yang ada jangan malu-malu. Dengan spontan aku mengambil piring di dapur, lagian toko sedang belum ada pembeli, dapurnya pun di atas (lantai dua),  sekedar mengambil nasi tidak akan lama, lagian kami tinggal di ruko, di bawahnya toko dan lantai atasnya rumah.

“He…Tante, sudah makan Tan?” tante Rini diam saja setiap kali ku tawarkan makan. Rasanya sudah kali ke empat tante Rini bersikap tidak wajar seperti ini kepadaku, tapi sudahlah namanya juga ada orang menumpang gratis di rumahnya. Aku selalu jinakkan hatiku untuk selalu bisa menerima segala sesuatu dengan ikhlas dan lapang dada. Mungkin dia kurang dengar, atau mungkin sedang banyak pikiran, atau jangan-jangan sedang tidak bisa diganggu pikirku. Walau sikap tante makin parah, raut wajah tante sangat masam dan seolah tidak suka dengan keberadaaanku di rumah ini, tapi aku harus sabar  dan tidak boleh sensitif terhadap semua ini walau terkadang cukup sakit dan sangat sedih karena aku tau kalau aku orang miskin tidak seperti mereka. Beberapa kali ku coba makan di luar, tapi ketahuan oleh paman, bahkan paman sangat marah sampai berkata “Kenapa kamu makan di luar, apa sudah banyak uangmu untuk makan di luar, lagian stok beras kan masih banyak di rumah ini?” Dalam hatiku, paman belum paham apa yang terjadi, aku tidak boleh menceritakan hal ini sedikit pun kepada paman karena hanya akan memperburuk suasana, lagian aku tidak ingin paman bertengkar dengan tante hanya karena keberadaanku di rumah ini.

Beberapa selang waktu kemudian kira-kira tujuh menit setelah itu, telepon rumah pun berdering dengan untaian bunyi ingin segera diangkat. Aku pun segera menuju sumber bunyi dan langsung mengangkatnya.

“Assalamu’alaikum…ini bicara dengan siapa, ada yang bisa saya bantu?” jawaban pun datang “Wa’alaikumsalam…ya kami orang tuanya Rini sebentar lagi kami sampai di sana, ini siapa?” Rupanya orang tua tante Rini mau datang dan sepertinya akan menginap cukup lama juga di sini. “O…orang tuanya tante Rini, saya Umair keponakannya om Firman, baik Buk, nanti saya sampaikan kepada tante Rini kalau Bapak dan Ibuk sudah hampir tiba.”

Lima belas menit pun berlalu, akhirnya mereka datang.

 

*** (Ada tamu)

Orang tua tante Rini termasuk orang yang terkaya di kampungnya, karena mereka hidup berlebih dan memiliki tiga toko baju-baju mahal di dekat terminal. Namun sayang seribu kali sayang perawakannya tidak ubahnya dengan tante Rini.

“Sudah berapa lama Kamu tinggal di rumah ini Umair?” kata buk Hanum (Ibunya tante Rini)

“Hampir enam bulan Buk.” aku pun menjawabnya.

“Sudah cukup lama juga ya, tantemu Rini juga sudah cerita banyak tentangmu, kok nggak sekalian aja dibawa ibu dan kedua saudaramu  ke sini, kan mereka bisa hidup mewah dan bisa mencicipi makanan enak setiap hari seperti kamu sekarang yang dahulunya susah untuk makan.”

Aku tak habis pikir kalau buk Hanum sampai hati berkata seperti itu padaku, seakan aku memang hanya jadi benalu di rumah anaknya. Semoga Allah membukakan pintu hatinya agar selalu bersyukur atas segala nikmat yang telah dititipkan Allah karena di balik itu juga ada sebahagian terdapat hak orang lain yang membutuhkan, hanya itu yang terlintas dibenakku saat itu.

Setiap hari buk Hanum sering bersikap jahat kepadaku, bahkan lebih lagi dari yang diperbuat tante Rini kepadaku. Pernah suatu ketika jam sepuluh malam aku disuruh jalan kaki lebih kurang tiga kilo dari rumah hanya untuk membelikan martabak kesukaannya, padahal mereka tau bahwa jam segitu sudah tutup, mereka hanya ingin berniat mengerjai aku. Tidak terfikir olehnya kalau aku belum sempat istirahat sejenak karena sangat lelah baru saja selesai bekerja melayani pengunjung yang mana hari itu lumayan ramai, belum lagi bersih-bersih sampai tutup toko. Tidak jarang buk Hanum dan tante Rini menjelek-jelekkan aku pada paman tentang pekerjaanku yang tidak bereslah, bahkan sering dibilang pada paman kalau setiap makan aku tidak pernah pandai menawari mereka makan. Padahal sebaliknya, mereka yang tidak pernah menghargai aku dengan menampilkan wajah tidak enak saat aku menawari mereka makan dan dengan nada diam sekaligus buang muka di hadapanku.

Hampir setiap malam mata ini tidak bisa tidur, bahkan rasanya aku sudah tidak tahan lagi untuk tinggal di rumah ini. Setiap makan bersama, tante selalu baik, bahkan tidak jarang dia menambahkan nasi dan memasukkan lauk atau sambal yang enak-enak ke piringku, tapi di belakang paman, tante sama sekali tidak peduli, bahkan sempat aku memasukkan nasi ke tong sampah demi menyenangkan hati paman agar dikira aku sudah makan, sebenarnya sama sekali tidak bisa nasi itu ku telan, sembari mereka ke belakang, dengan bergegas aku mamasukkan nasi yang ada di piringku itu ke kantong plastik lalu diam-diam memasukkannya ke tong sampah, aku tahu perbuatanku itu sangat berdosa telah membuang-buang makanan tapi aku terpaksa, lagian aku bermaksud nanti akan memberikan nasi yang kubungkus  tadi ke tetangga sebelah yang punya banyak ayam.

 

*** (Kabur)

Allah Maha Adil akan setiap perbuatan makhluk-Nya, akhirnya secara tidak sengaja diperlihatkan oleh Allah dengan terlihatnya oleh paman bahwa tante Rini sedang menyimpan sambal jauh-jauh dari hadapanku, sementara aku belum makan dari pagi sama sekali. Akhirnya paman marah dan mereka pun adu mulut.

Malam pun berlalu dengan keheningannya. Ya…, mungkin sudah saatnya aku harus meninggalkan rumah ini, entah kemana akan pergi aku pun juga tidak tahu, yang penting aku tidak di rumah ini lagi yang hanya bisa menyusahkan paman dan keluarganya. Lama-lama aku hanya akan jadi penyebab kerusakan rumah tangga mereka, tapi aku juga tidak ingin ibu tau dengan nasibku di sini, karena hanya akan membuat ibu semakin sakit dan sedih. Aku sudah meninggalkan sepucuk surat untuk paman karena paman tidak akan mungkin mengizinkanku untuk pergi dari rumah ini.

Jarum jam pun menunjukkan pukul sebelas malam, aku mengumpulkan barang-barangku, bahkan bajuku yang masih direndam di sumur, kuperas saja dan langsung memasukkannya ke kantong plastik. Aku pun meninggalkan sepucuk surat di atas meja dan langsung meninggalkan rumah. Ya ampun, aku ketinggalan baju koko kesayanganku, tapi biarlah, kalau balik lagi nanti ketahuan kalau aku kabur. Di jalan tol aku menyetop sebuah mobil, walau dengan uang pas-pasan di saku.

“Mau kemana nak, malam-malam begini?” kata sang sopir.

“Terserah pak, saya ingin diturunkan di pesantren terdekat dari sini.” ya…pesantren! hanya itu jalan satu-satunya, siapa tau kepala pesantren mau menerimaku walau hanya jadi cleaning service, yang penting suasana pesantren yang kuidam-idamkan dapat kurasakan.

 

*** (Mogok)

Dalam perjalanan, tiba-tiba ban mobil yang ku tumpangi bocor, semua penumpang turun untuk istirahat sejenak  karena kebetulan dekat rumah makan, namun aku tidak punya apa-apa selain uang seribu rupiah terselip di saku celana bagian belakang, dimana perutku sudah sangat lapar seharian tidak makan, aku mencari warung kecil didekat situ untuk membeli aqua gelas. Hanya itu yang bisa mengganjal perutku malam ini.

 

*** (Di pesantren)

Hari sudah menjelang pagi dan azan Subuh pun mulai bergema. Aku diturunkan di surau depan sebuah pesantren. Seusai sholat Subuh, aku ditanya oleh seorang lelaki paruh baya. Yang mana ia kepala pesantren (Harapan Ummat).

“Dari mana Nak, kok baru kelihatan wajahnya?”

“Begini Pak, saya tidak punya tempat tinggal, saya tidak tahu harus ke mana, kalau bapak mengizinkan, saya ingin tinggal di surau ini, untuk bersih-bersih atau tukang kebun, dan lain-lain, yang penting saya bisa menikmati suasana pesantren.

“Siapa namamu dan apa cita-citamu, Nak?” kata bapak itu.

“Nama saya Umair, saya ingin membahagiakan ibu dengan menjadi seorang ahli Al-Qur’an dan sekaligus berguna bagi bangsa ini.” Mendengar jawabanku, bapak itu tertegun sambil  menggelengkan kepala.

“Baik, kamu boleh tinggal di sini.” seraya bapak kepala.

Aku sangat terharu dan bersyukur, ternyata zaman sekarang masih ada orang sebaik ini. Setiap hari aku menikmati betul suasana pesantren ini, aku betul-betul bekerja di sini dengan sepenuh hati, yang penting jiwaku tidak terbebani.

Beberapa bulan kemudian, aku dipanggil oleh kepala pesantren, ia menceritakan hasil kerjaku selama di pesantren ini.

“Kamu sangat tekun dan rajin, ibadahmu juga bagus saya perhatikan.” kata bapak kepala.

“Terimakasih banyak, Pak.” jawabku.

 

*** (Mulai sekolah di pesantren Harapan Ummat)

Bapak kepala bercerita banyak denganku dan akhirnya kepala pesantren meminta aku bersekolah di sini,

“Tapi aku tidak punya biaya untuk sekolah, Pak.” jawabku kembali.

“Kamu tidak usah bayar Umair, Kamu dibebaskan untuk seluruh biaya karena sepertinya Kamu sangat cerdas dan berprestasi.” Syukur yang tak kunjung henti ku ucapkan.

“Terimakasih banyak Pak, saya sangat bersyukur atas segala nikmat ini, ternyata Allah telah mendengar doa saya, agar saya bisa bersekolah terutama mengecap ilmu agama.”

“Sama-sama Umair.” jawab sang bapak kepala.

Selama di pesantren aku dididik dan diajarkan banyak ilmu agama, aku ingin melanjutkan cita-cita seperti pinta ibuku. Alhamdulillah, selama di pesantren ini aku selalu meraih juara umum dan membuat semua yang ada di pesantren begitu sayang padaku. Sudah saatnya ibu tau dengan keadaanku yang sekarang. Tujuh tahun sudah aku hidup di pesantren ini, susah, senang, dan sedih telah kulalui bahkan kini aku sudah menjadi tenaga pendidik bagi adik-adik kelasku. Sebentar lagi aku akan kuliah dan Alhamdulillah aku dapat beasiswa untuk melanjutkan study ke Cairo (Mesir).

 

*** (Cairo)

Subhanallah, semua ini berkat do’a ibu yang senantiasa mendo’akanku siang dan malam agar aku selalu menjadi anak yang sholeh dan berguna bagi bangsa ini. Aku berjanji, setelah balik dari negeri Timur Tengah ini, aku akan mengabdi kepada bangsa dan negaraku agar bangsaku tidak lagi buta akan norma dan nilai-nilai agama Islam. Aku akan selalu berusaha meraih impianku agar dapat mensejahterakan masyarakatku yang madani.

 

 

 

Post comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2015 SD Islam Raudhatul Jannah.